PANDEGLANG — Disdikpora Kabupaten Pandeglang resmi mencanangkan program Salasa Nyunda sebagai respons atas tergerusnya penggunaan bahasa ibu di kalangan generasi muda. Kebijakan ini menyasar seluruh lingkungan sekolah di Pandeglang dan baru akan diwajibkan penuh pada 2027. Sebelum itu, Disdikpora menyiapkan sejumlah tahapan pengukuran kesiapan siswa.
Kepala Disdikpora Pandeglang Sutoto menilai eksistensi bahasa Sunda di wilayahnya perlu diintervensi lewat kebijakan formal di lembaga pendidikan. Tanpa langkah itu, bahasa daerah dianggap berisiko makin ditinggalkan.
Mengapa Bahasa Sunda di Pandeglang Perlu Dilindungi
Menurut Sutoto, penanaman kecintaan terhadap bahasa daerah harus dimulai sejak dini. Bahasa dinilai bukan hanya alat komunikasi sehari-hari, tetapi bagian dari identitas suatu masyarakat.
"Bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cerminan identitas suatu masyarakat. Bahasa menunjukkan identitas bangsa," katanya.
Penguatan bahasa daerah disebut menjadi langkah nyata membangun karakter generasi muda yang berakar pada nilai tradisi. Tujuannya sekaligus merawat keluhuran budaya bangsa agar tetap lestari.
"Sekaligus merawat keluhuran budaya bangsa agar tetap lestari," ujarnya.
FTBI Jadi Fondasi Sebelum Salasa Nyunda Diwajibkan
Sebelum program Salasa Nyunda berlaku penuh pada 2027, Disdikpora menjadikan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) sebagai pondasi awal. Ajang ini dipakai untuk mengukur potensi dan kesiapan para siswa.
FTBI juga dinilai sebagai wadah pembinaan karakter, kreativitas, dan penggalian bakat sastra daerah di kalangan pelajar.
"FTBI juga menjadi wadah pembinaan karakter, kreativitas, dan penggalian bakat sastra daerah," kata Sutoto.
Pemkab Pandeglang Kawal Implementasi Program
Jajaran eksekutif Pemerintah Kabupaten Pandeglang menyatakan dukungan penuh terhadap kebijakan ini. Asisten Daerah III Setda Pandeglang, TB Nandar Suptandar, menyebut pemerintah daerah berkomitmen mengawal implementasinya.
"Bahwa bahasa Sunda adalah jati diri masyarakat Pandeglang yang wajib dihidupkan dalam interaksi sehari-hari. Termasuk dalam lingkungan akademis," katanya.
Dengan dukungan tersebut, Disdikpora Pandeglang menyiapkan tahapan menuju pemberlakuan Salasa Nyunda secara menyeluruh. Program ini diharapkan tidak berhenti sebagai canangan, tetapi benar-benar masuk ke kebiasaan harian siswa di sekolah.