El Nino Ancam Pasokan Listrik Nasional, Pakar ITB Sorot Risiko PLTA Cirata dan Saguling

Penulis: Oman Sudirman  •  Rabu, 24 Juni 2026 | 16:30:43 WIB
Debit air waduk Cirata dan Saguling di Jawa Barat menurun drastis akibat El Nino, mengancam pasokan listrik nasional.

BANTEN — Kevin menjelaskan, cuaca ekstrem membuat debit air di waduk-waduk strategis menyusut tajam. Kondisi ini secara langsung mengancam pasokan dari PLTA-PLTA besar, seperti Cirata dan Saguling di Jawa Barat. “Debit air menyusut tajam, mengancam produktivitas PLTA besar seperti Cirata dan Saguling di Jawa Barat,” tulis Kevin dalam unggahan di akun Instagram resmi ITB, Rabu (24/6).

Ancaman ini bukan sekadar teori. Pada 2023, Sulawesi Selatan sempat mengalami pemadaman total. Penyebabnya, lebih dari 35 persen pasokan listrik di provinsi itu bergantung pada energi air, termasuk dari PLTA Bili-bili di Gowa yang lumpuh akibat turunnya volume air waduk.

Bukan Cuma Air, Angin Juga Melemah

Masalah tidak berhenti di PLTA. Menurut data dari lembaga pegiat lingkungan Cerah, El Nino juga melemahkan kecepatan angin. Akibatnya, Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) belum bisa diandalkan sebagai sumber energi pengganti saat PLTA terganggu.

Catatan historis menunjukkan kerentanan ini sudah berulang. Sepanjang 2012 hingga 2019, setidaknya enam PLTA di Jawa Tengah dan empat PLTA di Sumatra mandek total karena kekurangan pasokan air. Minimnya pembangkit pengganti memaksa operator melakukan pemadaman bergilir.

Deforestasi Memperparah Krisis Air PLTA

Penelitian berjudul The Climate and Land-use Changes Impact on Water Availability for Hydropower Plants in Indonesia (2023) menemukan fakta lain. Ancaman terhadap produktivitas PLTA tidak hanya datang dari perubahan iklim, tetapi juga dari hilangnya tutupan hutan di sekitar area pembangkit. Hal ini mempercepat penurunan debit air waduk.

Atas dasar temuan ini, Cerah mendesak pemerintah untuk mengkaji ulang proyek-proyek pembangkit energi terbarukan skala besar yang sifatnya terpusat.

PLTS Atap Jadi Solusi Desentralisasi Listrik

Di tengah kekhawatiran tersebut, Yayasan Kesejahteraan Berkelanjutan Indonesia (Sustain) mendorong diversifikasi energi melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap. Direktur Eksekutif Sustain, Tata Mustasya, menilai sistem kelistrikan yang terpusat dan didominasi PLTU batu bara sangat rawan tumbang saat terjadi gangguan.

“Ketika jaringan utama PLN mengalami gangguan teknis atau kelebihan beban, pasokan listrik di titik-titik konsumen tetap aman karena ditopang energi surya mandiri,” ujar Tata dalam keterangan resmi, Selasa (23/6). PLTS Atap, menurutnya, berfungsi sebagai bantalan atau buffer di level tapak konsumen.

Selain PLTS Atap, Sustain juga merekomendasikan skema power wheeling. Skema ini memberikan hak kepada produsen listrik swasta berbasis energi terbarukan untuk memanfaatkan jaringan transmisi milik PLN. “Saat ini banyak industri yang ingin beralih ke energi bersih tetapi terhambat oleh keterbatasan pasokan hijau dari PLN,” kata Tata.

Dengan power wheeling, produsen energi surya skala besar bisa menyalurkan listrik hijau langsung ke industri tanpa harus membangun infrastruktur baru. Sustain menghitung, skenario akseleratif ini bisa menambah kapasitas energi surya sekitar 11,4 GWp dalam waktu singkat. Angka tersebut signifikan untuk mencapai target nasional 17 GW tanpa membebani keuangan negara secara berlebihan, sekaligus mengurangi beban investasi hulu PLN. Alhasil, perusahaan listrik pelat merah itu bisa lebih fokus menjaga keandalan jaringan transmisi utama untuk mencegah pemadaman massal di masa depan.

Reporter: Oman Sudirman
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top