TANGERANG — Antrean panjang kendaraan roda empat terjadi di SPBU Jalan Jenderal Sudirman No. 58, Babakan, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang, pada Jumat (10/7) sekitar pukul 10.30 WIB. Kondisi ini dipicu oleh kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax yang membuat pengemudi beralih ke Pertalite.
Berdasarkan pantauan di lokasi, antrean mobil pribadi, taksi online, dan truk logistik mengular hingga keluar area SPBU. Kepadatan itu sempat menyebabkan perlambatan arus lalu lintas di sekitar pintu masuk. Sejumlah pengendara mengaku harus menunggu antara 30 hingga 45 menit untuk mendapatkan Pertalite.
Salah seorang pengemudi taksi online, Ilham, mengatakan kenaikan harga Pertamax memaksanya beralih ke Pertalite. Menurut dia, jika tetap menggunakan Pertamax, pendapatan hariannya habis hanya untuk membeli bensin.
“Sejak Pertamax naik, mau tidak mau saya harus pindah ke Pertalite. Kalau tetap menggunakan Pertamax, pendapatan harian habis hanya untuk membeli bensin, sementara tarif taksi online tidak ikut naik,” ujarnya saat ditemui di lokasi.
Ilham juga mengeluhkan antrean panjang yang mengurangi waktu produktifnya. Waktu yang seharusnya dipakai mencari penumpang justru habis untuk mengantre di SPBU.
“Biasanya jam segini saya sudah mendapat dua sampai tiga penumpang. Sekarang waktu habis hanya untuk mengantre di SPBU,” katanya.
Pihak pengelola SPBU menjelaskan bahwa pasokan Pertalite tetap tersedia sesuai kuota harian. Namun, meningkatnya jumlah kendaraan yang beralih mengisi Pertalite dalam beberapa hari terakhir menyebabkan antrean di jalur pengisian tidak dapat dihindari.
Kondisi ini menunjukkan adanya perubahan pola konsumsi BBM di kalangan pengguna kendaraan setelah penyesuaian harga BBM nonsubsidi. Dampaknya, permintaan terhadap Pertalite melonjak signifikan di sejumlah SPBU di Kota Tangerang.
Belum ada pernyataan resmi dari Pertamina atau pemerintah daerah terkait lonjakan permintaan Pertalite ini. Namun, para pengemudi berharap ada solusi agar antrean panjang tidak terus berulang setiap kali harga BBM nonsubsidi naik.
Kontributor: Luluk Mukaromah