TANGERANG — Petugas Tim Respon Cepat (TRC) di TPA Rawa Kucing kini bisa bergerak lebih sigap. Jika muncul titik api, mereka hanya butuh waktu kurang dari sepuluh menit untuk melakukan pemadaman awal berkat persediaan air yang sudah ditempatkan di titik-titik rawan.
Kepala DLH Kota Tangerang, Wawan Fauzi, mengungkapkan bahwa setiap toren memiliki kapasitas 10.000 liter. "Ini adalah upaya memperkuat mitigasi di TPA Rawa Kucing dalam cegah kebakaran berulang seperti tahun 2023, dengan penguatan pengawasan oleh petugas TRC untuk mempercepat penanganan apabila muncul titik api," ujarnya di Tangerang, Kamis.
Pemkot tidak hanya mengandalkan infrastruktur. Seluruh anggota TRC telah menjalani pelatihan penanggulangan kebakaran bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, dan Polri. Bahkan, para pemulung yang sehari-hari beraktivitas di area TPA juga dilibatkan dalam pengawasan.
Wawan menambahkan, langkah pencegahan rutin terus dijalankan. Mulai dari penutupan timbunan sampah menggunakan tanah merah (cover soil), penyiraman area landfill, pembersihan gulma kering, hingga pengawasan 24 jam oleh petugas di lapangan.
Pasca-kebakaran besar pada 2023, DLH Kota Tangerang melakukan evaluasi menyeluruh. "Terlebih setelah adanya peringatan potensi cuaca ekstrem, seluruh upaya pencegahan kami perkuat agar potensi kebakaran dapat ditekan semaksimal mungkin," ungkap Wawan.
Kondisi cuaca panas dan angin kencang kerap menjadi pemicu utama munculnya api di area landfill yang kaya gas metana. Dengan kesiagaan toren air dan personel, risiko kebakaran diharapkan bisa diminimalkan secara signifikan.
Upaya mitigasi kebakaran ini berjalan beriringan dengan transformasi besar pengelolaan sampah di Kota Tangerang. Pemkot tengah merevitalisasi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), mengoptimalkan pengelolaan gas metana, dan membangun Refuse Derived Fuel (RDF) Hub.
Proyek RDF Hub ini nantinya akan mengolah sampah menjadi bahan bakar alternatif. Langkah tersebut merupakan bagian dari target ambisius Kota Tangerang untuk mewujudkan pengelolaan sampah yang modern, ramah lingkungan, dan mencapai zero waste.
Wawan Fauzi mengajak masyarakat untuk berperan aktif. "Kalau pemerintah dan masyarakat berkolaborasi, sampah bukan lagi menjadi masalah, tetapi bisa menjadi sumber daya yang bermanfaat," katanya.
Ia mendorong warga untuk memilah sampah sejak dari rumah, memanfaatkan bank sampah, dan mengurangi volume sampah yang dikirim ke TPA. Semakin sedikit sampah yang masuk ke landfill, semakin rendah pula potensi timbulnya api dan polusi udara di lingkungan sekitar.