TANGERANG — Kebakaran yang melanda TPA Jatiwaringin di Kecamatan Mauk kian meluas hingga mencapai 15 hektare. Bupati Tangerang Moch Maesyal Rasyid menyatakan, peningkatan status darurat ini dipicu oleh sejumlah indikator serius, mulai dari lonjakan titik api hingga prakiraan musim kemarau yang memperparah kondisi.
"Kita tetapkan bahwa ini sudah masuk kategori darurat. Karena ini menyangkut masalah kesehatan masyarakat, menyangkut juga risiko daripada api yang terus menjalar," ujar Bupati Maesyal di Tangerang, Rabu.
Helikopter Water Bombing Dikerahkan untuk Jangkau Titik Sulit
Keputusan ini diambil setelah rapat evaluasi bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK), serta instansi terkait. Salah satu tantangan terbesar di lapangan adalah material yang terbakar didominasi sampah dan bahan mudah terbakar, sementara titik api berada di tumpukan sampah dengan ketinggian tertentu yang sulit dijangkau kendaraan darat.
"Dengan situasi ini, rencananya helikopter BNPB akan membantu untuk penyiraman api dari atas. Karena ada lokasi yang tidak bisa dimasuki oleh kendaraan," kata Bupati.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto menginstruksikan pengerahan dua helikopter pengebom air untuk mempercepat pengendalian kebakaran. Ia juga membuka opsi operasi modifikasi cuaca jika diperlukan. Hingga Rabu pagi, sebanyak 10 mobil pemadam kebakaran dari berbagai instansi dikerahkan untuk memadamkan api dari darat, dengan fokus menahan laju penyebaran di area yang bisa dijangkau.
Angin Kencang dan Cuaca Panas Percepat Rambat Api
Proses pemadaman mengalami kendala serius akibat embusan angin yang cukup kencang dan cuaca panas. Kondisi ini menyebabkan api cepat menjalar ke berbagai arah, memperluas area terdampak yang sebelumnya diperkirakan lebih kecil.
"Ini menjadi pertimbangan karena dampak pastinya ada asap. Asap ini terbawa oleh angin dan dekat sekali ke pemukiman," jelas Bupati Maesyal.
Dampak langsung sudah dirasakan warga sekitar. Sebanyak 30 kepala keluarga atau 52 jiwa mengungsi ke Balai Desa Tanjakan Mekar untuk menghindari paparan asap yang pekat. Pemerintah daerah berharap dengan status tanggap darurat ini, upaya penanggulangan bisa lebih maksimal dan melibatkan semua pihak.
"Kami minta bantuannya kepada semua pihak, untuk tangani persoalan ini agar segera mematikan api ini, termasuk juga untuk upaya-upaya mencegah kepada kesehatan masyarakat," ujar Bupati Maesyal.