TANGERANG — Asap dan aroma menyengat dari kebakaran TPA Jatiwaringin yang telah berlangsung sejak akhir Juni 2026 terus menggerogoti kesehatan warga di pemukiman sekitar. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang mencatat, hingga Rabu (1/7/2026), sebanyak 154 jiwa telah teridentifikasi menderita gejala ISPA. Kelompok paling rentan, yakni ibu hamil dan balita, mendominasi angka tersebut.
Batuk dan Muntah, Keluhan yang Tak Kalah Serius
Selain ISPA, sejumlah warga melaporkan gejala tambahan yang tak kalah mengkhawatirkan. Mimi Kettri, warga Perumahan Griya Artha di Kecamatan Rajeg, mengaku anak balitanya harus dirawat di rumah sakit dan kini rutin mengonsumsi obat.
"Batuk ringan, muntah. Baunya sudah mendampaki hingga ke pemukiman warga," ujar Mimi, Jumat (3/7/2026).
Ia menyebutkan, jarak rumahnya dari TPA Jatiwaringin hanya sekitar 2,5 kilometer. Kepulan asap yang terbawa angin membuat kompleks perumahannya tertutup asap pekat setiap hari. Kondisi itu memaksanya memilih mengungsi ke hotel demi proses pemulihan sang buah hati.
"Nafas itu engap. Tenggorokan berasa sakit, itu saya yang sudah dewasa, gimana anak-anak coba," keluh Mimi.
Satu Ibu Hamil Dirujuk untuk Perawatan Intensif
Kepala Dinkes Kabupaten Tangerang, Hendra Tarmizi, mengonfirmasi bahwa dari total 154 pasien yang telah diperiksa sejak Selasa (30/6/2026) malam, mayoritas adalah ibu hamil dan balita. Satu kasus di antaranya—seorang ibu hamil—terpaksa dirujuk ke RSUD untuk penanganan lebih lanjut.
“Ada satu kasus, yaitu ibu hamil kita rujuk ke RSUD untuk dilakukan penanganan,” kata Hendra.
Pemeriksaan dan penanganan medis terhadap para korban terus dilakukan. Namun, warga yang rumahnya berada dalam radius terdampak asap masih dihadapkan pada risiko kesehatan yang belum sepenuhnya teratasi.
Pemukiman Tertutup Asap, Warga Pilih Mengungsi
Kebakaran yang melahap area seluas 33 hektare di TPA Jatiwaringin ini menimbulkan dampak yang meluas. Asap tebal dan bau busuk tak hanya mengganggu pernapasan, tetapi juga memicu rasa mual dan muntah pada warga yang bertahan di rumah. Bagi sebagian keluarga, mengungsi menjadi pilihan terakhir untuk melindungi anak-anak mereka dari paparan polutan yang terus menguar.
Hingga berita ini diturunkan, upaya pemadaman dan penanganan dampak lingkungan di TPA Jatiwaringin masih berlangsung.