SERANG — Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau (GAK) dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Deny Mardiono, melaporkan aktivitas vulkanik masih tinggi. Dalam laporan per enam jam yang dirilis melalui magma.vsi.esdm.go.id, teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal setinggi 10-250 meter dari puncak.
Rekam Kegempaan: Lima Kali Letusan dan Tremor Menerus
Selama periode pengamatan, tercatat lima kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo 35-50 milimeter dan durasi 13-42 detik. Satu kali gempa tremor menerus juga terekam dengan amplitudo 2-28 milimeter, dominan 6 milimeter. Kondisi cuaca berawan dengan angin lemah ke arah barat laut, suhu udara 27,1-31,9 derajat Celcius, dan kelembaban 55-74 persen.
Rekomendasi PVMBG: Jauhi Radius 3 Kilometer
Deny merekomendasikan agar tidak ada aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat kawah aktif. Ancaman utama meliputi awan panas, lontaran batu pijar, lava, dan hujan abu lebat. Meski demikian, ia menegaskan bahwa masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harus tetap tenang.
"Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang dan jangan mempercayai isu-isu tentang erupsi Gunungapi Anak Krakatau yang akan menyebabkan tsunami, serta dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat," ujar Deny dalam keterangan resminya.
Kepala Diskominfo Serang: Cek Sumber, Jangan Langsung Share
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian (Diskominfo) Kabupaten Serang, Surtaman, turut angkat bicara. Ia mengimbau warga untuk menyaring informasi dengan bijak di tengah maraknya isu yang beredar.
"Cek sumber pemberitaanya terlebih dahulu untuk memastikan informasi tersebut fakta atau hoax, dan selalu kunjungi website resmi lembaga terkait untuk memastikan kebenaranya jangan langsung share, klarifikasi dulu kebenarannya," kata Surtaman.
Catatan Sejarah: Dari Tsunami 1883 hingga Longsoran 2018
Secara administratif, Gunung Anak Krakatau masuk ke dalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, meskipun pengamatan dilakukan dari dua pos, yakni di Kalianda (Lampung Selatan) dan Pasauran (Kabupaten Serang, Banten).
Erupsi besar pada 1883 menghasilkan tsunami dahsyat. Peristiwa serupa terjadi pada 22 Desember 2018, ketika goncangan gempa bumi memicu erupsi dan longsoran sebagian tubuh gunung yang menimbulkan tsunami di Selat Sunda. Setelah itu, erupsi berskala rendah berlangsung sebagai fase konstruksi pertumbuhan kembali hingga 16 Desember 2023. Hingga saat ini, jeda erupsi masih berlangsung, namun aktivitas magmatik berenergi rendah terus terpantau.