BANTEN — Fitur penghitungan kalori yang terbakar selama berolahraga memang menjadi salah satu daya tarik utama smartwatch. Namun, para pengguna, terutama di Indonesia, sebaiknya tidak serta-merta menjadikan angka tersebut sebagai acuan untuk menentukan porsi makan selanjutnya.
Dokter Spesialis Gizi Klinik, dr. Nadhira Afifa, MPH, SpGK, mengingatkan bahwa estimasi yang ditampilkan perangkat wearable ini masih jauh dari akurat. Dalam sebuah video yang diunggah di akun Instagram pribadinya pada Senin (20/7/2026), ia membeberkan data yang mengejutkan.
Tingkat Error 30 Hingga 93 Persen
"Sebenarnya perkiraan kalori di smartwatch, percentage error-nya 30 sampai 93 persen," ujar dr. Nadhira. Artinya, jika layar smartwatch menunjukkan Anda telah membakar 1.500 kalori, angka sebenarnya bisa hanya sekitar 400 atau 500 kalori saja.
Rentang kesalahan yang sangat lebar ini membuat data tersebut tidak bisa diandalkan untuk pengambilan keputusan, terutama bagi mereka yang sedang dalam program penurunan berat badan atau pengaturan pola makan ketat.
Mengapa Hitungan Smartwatch Tidak Akurat?
Menurut dr. Nadhira, smartwatch pada umumnya hanya bekerja berdasarkan parameter dasar yang terbatas. Alat ini menghitung estimasi menggunakan data seperti usia, berat badan, jenis kelamin, detak jantung (heart rate), dan jenis olahraga yang dipilih pengguna.
Padahal, metabolisme dan pengeluaran energi tubuh manusia jauh lebih kompleks. "Masih banyak yang harus dipertimbangkan, mulai dari penyakit yang mendasari, basal metabolic rate (BMR), massa otot, variability oxygen consumption, dan banyak faktor lain yang belum bisa diukur dari matriks smartwatch," jelasnya.
Dampak bagi Pengguna di Indonesia
Fenomena ini cukup krusial bagi pengguna smartwatch di Indonesia yang mulai sadar kesehatan. Banyak orang merasa "aman" untuk mengonsumsi lebih banyak makanan setelah melihat angka kalori terbakar yang tinggi di pergelangan tangan mereka. Padahal, defisit kalori yang sesungguhnya mungkin tidak tercapai.
Angka di layar smartwatch sebaiknya hanya dijadikan sebagai gambaran umum atau motivasi, bukan sebagai data medis yang presisi. Untuk kebutuhan pengaturan gizi yang lebih akurat, konsultasi dengan dokter spesialis gizi klinik tetap menjadi langkah yang paling tepat.