TANGERANG — Di tengah hiruk-pikuk kuliner Pasar Lama, sebuah bangunan tua bergaya arsitektur tradisional Tionghoa berdiri kokoh menyimpan memori panjang Kota Tangerang. Museum Benteng Heritage di Jalan Cilame Nomor 20 bukan sekadar tempat penyimpanan barang kuno, melainkan saksi bisu bagaimana kota yang dahulu dikenal sebagai Kota Benteng ini tumbuh dan berkembang.
Bangunan yang nyaris kehilangan masa depannya pada 2007 ini kini menjadi ruang edukasi bagi siapa saja yang ingin menelusuri akar sejarah. Budayawan Udaya Halim membeli rumah tua yang diperkirakan berdiri sejak 1684 tersebut dan merestorasi bagian-bagian aslinya tanpa membongkar bangunan. Dinding bata, lantai atas, pintu, jendela, hingga atap bergaya pelana khas Tionghoa tetap dipertahankan.
Koleksi Langka dari Abad ke-17 hingga Mesin Pemutar Musik Era 1890-an
Di dalam museum, pengunjung tidak hanya disuguhi deretan angka dan tanggal. Ada kebaya encim, gambang kromong, peralatan rumah tangga masyarakat Tionghoa Tangerang, hingga Masterpiece Relief yang disebut berasal dari abad ke-17.
Salah satu koleksi yang menarik perhatian adalah Edison phonograph buatan dekade 1890-an serta kamera-kamera tua yang kini kalah canggih dibanding ponsel. Namun justru di situlah nilai sejarahnya: teknologi boleh berganti, tetapi jejak kehidupan yang ditinggalkan tidak ikut hilang.
Menyaksikan Aktivitas Pasar Lama dari Ketinggian
Pengalaman berkunjung tidak berhenti pada melihat koleksi. Dari balkon lantai dua, pengunjung dapat menyaksikan aktivitas pedagang dan warga Pasar Lama yang bergerak tanpa jeda, seperti fragmen kehidupan kota yang hidup.
Pemandu Museum Benteng Heritage, Rofi Martin Siahaan, mengatakan museum ini menjadi ruang untuk mengenal sejarah masyarakat Tionghoa peranakan sekaligus memahami perjalanan terbentuknya Kota Tangerang. Kecap Benteng yang dipajang di dekat tangga menuju lantai dua juga menjadi penanda identitas kuliner kawasan tersebut.
Bagi pengunjung yang ingin membawa pulang pengalaman berbeda, tersedia sewa pakaian khas Tionghoa dengan tarif Rp50 ribu. Museum buka Selasa hingga Minggu pukul 10.00-17.00 WIB dengan tiket masuk Rp30 ribu untuk dewasa dan Rp20 ribu bagi pelajar.
Harapan agar Generasi Muda Melek Sejarah Kotanya Sendiri
Martin berharap museum tidak hanya ramai dikunjungi wisatawan dari luar Tangerang. Warga lokal, terutama generasi muda, perlu mengenal sejarah kotanya sendiri sebelum kota itu kehilangan ingatan.
"Harapan kami, semoga banyak warga Kota Tangerang, terkhusus para muda-mudinya, bisa melek terhadap sejarah dan mengenal budayanya," kata Martin.
Di luar dinding museum, Pasar Lama terus berubah mengikuti zaman. Namun di dalam museum, waktu seperti sengaja diperlambat agar pengunjung sempat bertanya: sebenarnya, dari mana kota ini bermula?