SERANG — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten mencatatkan perubahan peta kependudukan yang menempatkan Kota Serang sebagai magnet baru bagi migran risen atau penduduk yang berpindah dalam lima tahun terakhir. Ibu kota provinsi ini mulai menyalip dominasi wilayah Tangerang Raya yang selama ini menjadi tujuan utama perantau.
Berdasarkan data Survei Antar Sensus (Supas) 2025 yang dirilis Rabu (6/5/2026), para pencari kerja dan pemburu hunian kini mulai mengalihkan pandangan dari wilayah timur Banten menuju pusat provinsi. Fenomena ini dipicu oleh kondisi wilayah penyangga Jakarta yang dianggap sudah melampaui batas daya tampung.
Ketua Tim Statistik BPS Banten, Adam Sofian, menjelaskan bahwa Kota Tangerang dan Tangerang Selatan kini dipandang telah mencapai titik jenuh. Keterbatasan kapasitas tempat tinggal dan persaingan ekonomi yang sangat ketat membuat masyarakat mencari alternatif wilayah lain yang lebih berkembang.
"Bisa diasumsikan yang masuk di Kota Tangerang dan Tangsel sebelumnya bisa dibilang jenuh dalam kapasitas tempat tinggal dan perekonomian. Mereka akhirnya mencari alternatif lain, dan Kota Serang adalah jawabannya," ujar Adam.
Sejak menyandang status pusat pemerintahan pada tahun 2000, daya tarik Kota Serang terus meningkat secara bertahap. Posisi strategis sebagai pusat birokrasi menjadi daya tarik kuat bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) serta pekerja di sektor industri dan perdagangan untuk menetap secara permanen di sana.
BPS mengidentifikasi dua faktor utama yang mendorong gelombang migrasi ini, yakni kesempatan kerja dan kualitas hidup. Ekspansi sektor industri serta perdagangan di Serang memberikan harapan bagi para pencari kerja yang ingin menghindari kepadatan di wilayah penyangga ibu kota.
Selain itu, akses terhadap fasilitas publik seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur di Kota Serang dianggap lebih mumpuni serta terjangkau. Sebagai pusat provinsi, penataan ruang dan ketersediaan layanan dasar menjadi alasan fundamental bagi warga untuk memindahkan domisili mereka ke wilayah ini.
Meskipun arus migrasi mendatangkan energi ekonomi, BPS memberikan catatan kritis terkait kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Saat ini, Banten sedang berada dalam masa bonus demografi dengan dominasi penduduk usia produktif pada rentang 15 hingga 46 tahun.
Adam menegaskan bahwa kuantitas penduduk yang besar tanpa dibarengi keahlian yang mumpuni justru akan menjadi beban daerah. Jika potensi usia muda ini tidak dikelola dengan peningkatan skill, maka masalah sosial baru dipastikan akan muncul.
"Kualitas adalah kunci. Jika potensi usia muda ini tidak berkualitas, maka akan timbul masalah pengangguran, kerawanan sosial, hingga beban keluarga atau dependency ratio," tegas Adam.
Data Supas 2025 dikumpulkan melalui metode door-to-door dengan standar internasional di bawah asistensi UN Stat dan UNDP. Hasil survei ini diharapkan menjadi rujukan bagi Pemkot Serang dalam menyusun kebijakan strategis, terutama terkait penyediaan lapangan kerja dan penataan ruang kota agar pertumbuhan wilayah tetap inklusif.