TANGERANG — Bendungan Polor yang membentang di perbatasan Kota Tangerang dan Jakarta selama ini menjadi penghalang utama aliran Kali Angke. Akibatnya, saat curah hujan tinggi, air meluap dan merendam Kampung Candulan serta sejumlah permukiman di sekitarnya.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Tangerang, Taufik Syahzaeni, mengatakan secara matematis bangunan tersebut menghambat debit air Kali Angke. Air yang seharusnya mengalir lancar ke hilir justru tertahan dan meluap ke pemukiman warga.
“Kami menyambut baik rencana BBWS Ciliwung-Cisadane yang akan mengambil tindakan evaluasi terkait keberadaan Bendungan Polor,” ujar Taufik di Tangerang, Kamis.
Pemerintah Kota Tangerang tidak hanya mengandalkan evaluasi bendungan. Mereka telah menyiapkan program normalisasi Kali Angke secara bertahap. Tiga titik prioritas sudah ditetapkan: Bendungan Polor-Jembatan Merah, Jembatan Merah-Ciledug Indah, dan Ciledug Indah-Graha Raya.
Program ini akan berjalan dengan dukungan Pemerintah Provinsi Banten. Normalisasi skala besar ini dirancang untuk meningkatkan daya tampung sungai sehingga risiko banjir bisa ditekan secara signifikan.
Wali Kota Tangerang, Sachrudin, mengungkapkan bahwa penanganan Bendungan Polor sudah dibahas bersama. Rencananya, infrastruktur ini tidak hanya difungsikan sebagai pengendali banjir, tetapi juga sebagai sumber air bersih bagi warga sekitar.
“Tentunya ini menjadi langkah besar bagi pemerintah daerah khususnya Kota Tangerang dan Banten, dan kami optimis kerja sama ini bisa memberikan dampak besar,” ungkap Sachrudin.
Pemkot Tangerang menargetkan evaluasi teknis dari BBWS dapat segera ditindaklanjuti. Langkah ini diharapkan menjadi solusi permanen bagi warga yang selama bertahun-tahun harus berhadapan dengan banjir musiman akibat tersendatnya aliran Kali Angke.