BANTEN — Bukan sekadar asisten digital biasa, teknologi bernama Orange Technology ini menggabungkan tiga pendekatan sekaligus: engineering (teknologi sensor dan machine learning), psychology (ilmu emosi manusia), dan ethics (keamanan data). Tim peneliti menyebutnya sebagai H2O Framework—Health, Happiness, dan Humanistic Care.
Sistem ini bekerja dengan menganalisis pola penggunaan ponsel, cara mengetik, ekspresi wajah (jika diizinkan), hingga analisis suara. Jika pengguna mulai mengetik lambat, sering berhenti lama, atau detak jantung meningkat—yang terdeteksi lewat jam tangan pintar—asisten AI akan muncul dengan notifikasi lembut.
“Eh, keliatan kamu lagi capek banget nih. Mau istirahat dulu 10 menit? Aku puterin lagu yang biasa kamu denger pas lagi butuh calm, atau kita breathing exercise bareng 3 menit aja?” demikian contoh notifikasi yang muncul, seperti dikutip dari keterangan tertulis Prof. Untung Rahardja.
Yang membedakan teknologi ini dari asisten digital lain adalah kemampuannya memberikan respons yang personal. Saat pengguna sedang bersemangat mengerjakan proyek, AI justru memberi tantangan kecil yang sesuai dengan energi pengguna. Sebaliknya, ketika pengguna terdeteksi stres berat, AI tidak langsung memberikan motivasi klise, melainkan menawarkan saran jalan pagi, rekomendasi teman curhat, hingga menghubungkan ke konselor kampus secara rahasia.
“Dulu aku sering burnout tanpa sadar. Sekarang AI ini kayak temen yang selalu ada dan ngerti kapan aku butuh jeda,” ujar seorang mahasiswa semester 8 yang telah merasakan manfaat aplikasi pendamping ini.
Konsep ini tengah banyak dibahas di Journal of Orange Technology (JOT). Dua konferensi internasional besar direncanakan pada 2026: IICRO 2026 dengan tema “Advancing Orange Technology through Engineering, Psychology, and Ethics for Human-Centered Well-Being” dan ICCIT 2026 yang fokus pada “Orange Technology: Advancing Positive Computing Fostering Empathy and Well-Being for Societal Harmony”.
Prof. Untung menyarankan anak muda untuk mulai mencatat mood setiap malam sebelum tidur di notes HP—cukup satu kata seperti “senang”, “cape”, “excited”, “down”, atau “okay”. Kebiasaan sederhana ini disebut bisa membantu seseorang lebih memahami kondisi mentalnya sendiri.
Teknologi ini, menurut peneliti, hadir untuk memastikan ambisi tetap berjalan tanpa mengorbankan kesehatan mental. “Teknologi seharusnya jadi sahabat yang hangat, bukan mesin dingin yang bikin lo makin kesepian,” tulis Prof. Untung dalam keterangannya.