MRG Records di Serpong Bertahan 11 Tahun di Tengah Gempuran Streaming, Koleksi Musik Indonesia Jadi Andalan

Penulis: Nurul Huda  •  Selasa, 26 Mei 2026 | 18:20:42 WIB
MRG Records di Serpong bertahan selama 11 tahun sebagai toko rilisan musik fisik di tengah era streaming digital.

SERPONG — MRG Records, toko rilisan musik fisik yang berlokasi di kawasan Park BSD Nusa Loka, Serpong, Tangerang Selatan, telah berdiri selama 10 hingga 11 tahun. Toko ini menjadi salah satu tempat bertahan bagi para kolektor piringan hitam, kaset, dan CD di tengah menjamurnya platform streaming digital.

Dari Koleksi Pribadi Jadi Usaha yang Bertahan Lebih dari Satu Dekade

Pemilik toko, Geren yang akrab disapa Mas Ger, memulai usahanya dari kecintaan terhadap musik lawas era 60-an hingga 90-an. Koleksi pribadinya yang terus bertambah menarik minat banyak orang hingga akhirnya ia memutuskan untuk menjualnya.

“Awalnya memang dari hobi mendengarkan musik lama. Dari koleksi pribadi, lama-lama jadi banyak dan akhirnya mulai dijual. Ternyata responsnya bagus sampai bisa berjalan terus sampai sekarang,” ujar Mas Ger.

Pindah ke Serpong, Penjualan Lebih Banyak Lewat Online

Pada 2023, MRG Records sempat membuka lapak fisik di Basement Blok M Square, Jakarta. Namun, karena koleksi yang terus bertambah serta pertimbangan jarak, Mas Ger memindahkan seluruh operasional ke rumahnya di Serpong. Kini, ruang kosong di rumahnya difungsikan sebagai toka sekaligus ruang penyimpanan koleksi.

Penjualan saat ini lebih banyak dilakukan secara online melalui Instagram dan WhatsApp. Meski begitu, pelanggan tetap bisa datang langsung dengan sistem reservasi terlebih dahulu.

Mengapa Rilisan Fisik Masih Diburu di Era Digital?

Menurut Mas Ger, rilisan fisik menawarkan pengalaman yang tidak bisa didapatkan dari platform digital. Selain kualitas audio tertentu, kolektor juga bisa menikmati nilai artistik sebuah album melalui artwork, booklet, hingga informasi di dalam kemasan.

“Kalau streaming tinggal klik dan semua lagu tersedia. Tapi rilisan fisik punya rasa kepemilikan tersendiri. Kita bisa lihat artwork, baca informasi albumnya, dan ada kebanggaan saat memilikinya,” jelasnya.

Gen Z Mulai Melirik Kaset dan Vinyl Lawas

Fenomena menarik terjadi di toko ini. Generasi muda, termasuk Gen Z, mulai ramai mencari rilisan fisik. Mereka penasaran dengan musik nostalgia yang dulu sering diputar orang tua mereka di rumah.

“Sekarang anak muda juga mulai banyak yang cari vinyl, kaset, atau CD. Mereka penasaran sama musik lama dan mulai menikmati pengalaman koleksi itu sendiri,” katanya.

Koleksi Musik Indonesia Jadi Pembeda

Salah satu ciri khas MRG Records adalah kelengkapan koleksi musik Indonesia. Mulai dari pop kreatif lawas, dangdut, keroncong, hingga rilisan indie modern tersedia di tokonya. Hal ini membuatnya berbeda dari toko rilisan fisik lainnya yang biasanya minim koleksi lokal.

“Kalau toko lain biasanya koleksi musik Indonesianya tidak terlalu banyak. Kebetulan saya memang suka musik Indonesia, jadi koleksinya cukup lengkap,” ujar Mas Ger.

Genre yang paling banyak dicari pelanggan saat ini adalah pop rock dan indie. Nama-nama seperti Oasis, Green Day, U2, The Cure, Gorillaz, hingga band indie Indonesia seperti White Shoes & The Couples Company dan Rumah Sakit menjadi rilisan yang cukup sering diburu.

Tantangan Berburu Barang Langka yang Terbatas

Meski bisnis ini terlihat menjanjikan, Mas Ger mengaku tantangan terbesarnya adalah mencari barang koleksi yang jumlahnya terbatas dan tidak selalu mudah ditemukan di pasaran.

“Tantangan paling besar itu mencari barangnya. Karena rilisan fisik tidak selalu diproduksi ulang, jadi harus benar-benar telaten mencarinya satu per satu,” ungkapnya.

Ke depan, Mas Ger berharap semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, yang mulai menghargai rilisan fisik sebagai bagian dari budaya musik dan sejarah karya para musisi. “Musik itu bagian dari budaya. Semoga makin banyak orang yang mau menghargai rilisan fisik dan mulai berani mengoleksi,” tutupnya.

Reporter: Nurul Huda
Sumber: tangselpos.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top