SERANG — Tiga komponen utama menopang penerimaan Bea Cukai Banten hingga akhir April 2026. Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai Kanwil DJBC Kemenkeu Banten, Muhammad Hakim Satria, merinci kontribusi terbesar berasal dari Bea Masuk yang mencapai Rp3.385,52 miliar. Angka ini diraih di tengah pelemahan impor sejumlah komoditas seperti biji kakao, tembaga, dan kapal laut.
Sektor cukai menyumbang Rp1.156,53 miliar. Hakim menyebutkan tren positif ini utamanya ditopang oleh kinerja cukai Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA) dan hasil tembakau. "Penerimaan cukai sampai dengan April 2026 meningkat dibanding tahun sebelumnya. Hal ini didorong oleh kenaikan target yang cukup signifikan di tahun 2026," ujarnya dalam keterangan resmi di Serang, Jumat.
Sementara itu, Bea Keluar tercatat hanya menyumbang Rp10,88 miliar. Hakim menjelaskan, sektor ini sangat sensitif terhadap fluktuasi harga komoditas andalan ekspor Banten, yakni kelapa sawit mentah (CPO) dan produk turunannya di pasar global.
Selain penerimaan, Kanwil DJBC Banten juga membeberkan kondisi neraca perdagangan provinsi tersebut. Pada April 2026, nilai ekspor Banten tercatat sebesar 1,21 miliar dolar AS. Sebaliknya, nilai impor mencapai 4,37 miliar dolar AS. Defisit ini dipicu oleh pelemahan ekspor barang perhiasan, pesawat udara dan bagiannya, serta mesin untuk keperluan khusus.
Di sisi lain, lonjakan impor didominasi oleh komoditas penunjang aktivitas industri dan rumah tangga. Barang-barang seperti hasil minyak, komputer dan perlengkapannya, serta peralatan komunikasi menjadi penyumbang utama kenaikan nilai impor Banten dalam sebulan terakhir.