BANTEN — Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, melaporkan langsung kelangkaan ini ke jajaran direksi Pertamina Holding. “Alhamdulillah, setelah saya lapor ke Grup BOC-BOD Pertamina Holding, Pak Dirut SHD langsung turun tangan. SPPG yang kehabisan gas untuk segera membeli ke pangkalan,” ujar Nanik di Jakarta, Kamis (14/5/2026).
Ia mengapresiasi respons cepat Pertamina. Menurut Nanik, sinergi lintas lembaga menjadi kunci agar distribusi pangan MBG tetap berjalan. “Yang terpenting sekarang kebutuhan operasional dapur SPPG bisa segera terpenuhi sehingga pelayanan MBG kepada masyarakat tetap berjalan,” tambahnya.
Prioritas ke Wilayah Terdampak Paling Parah
Direktur Utama Sub Holding Downstream (SHD) Pertamina, Mars Ega Legowo Putra, memastikan distribusi gas elpiji untuk SPPG langsung diprioritaskan. “Hari ini kami prioritaskan ke SPPG. Tadi sudah kontak PIC di NTT, 220 tabung hari ini dikirim ke wilayah Kefamenanu dan Belu, serta 200 tabung untuk SPPG di Kota Kupang dan kabupaten,” jelas Ega.
Distribusi juga terus diupayakan ke wilayah lain seperti Sumba dan Manggarai. Ega menegaskan Pertamina akan mengawal ketersediaan pasokan elpiji agar operasional dapur MBG tidak kembali macet. “Kami akan terus mengupayakan ketersediaan gas agar MBG tetap berjalan normal,” ujarnya.
Akar Masalah: Kelangkaan Elpiji 12 Kg di Daerah
Sebelum intervensi Pertamina, sejumlah SPPG di NTT dan NTB sempat menghentikan operasional sementara. Kesulitan memperoleh elpiji 12 kilogram membuat dapur-dapur itu tak bisa memasak untuk ribuan penerima manfaat MBG. Kelangkaan ini diduga akibat distribusi yang tidak merata dan lonjakan permintaan di wilayah kepulauan.
Dengan tambahan pasokan ini, layanan MBG di 20 SPPG diharapkan bisa kembali normal dalam waktu dekat. Pertamina berkomitmen menjaga stok elpiji di wilayah timur Indonesia agar program strategis nasional tidak terhambat oleh masalah logistik energi.