BANTEN — Jaringan alumni Pondok Pesantren Daar El-Qolam dan La Tansa kembali memperlihatkan kekuatannya. Puluhan kiai dan pengasuh pesantren yang tersebar di berbagai daerah berkumpul dalam sebuah silaturahmi akbar, sebuah pertemuan yang oleh para pesertanya disebut sebagai keluarga perjuangan, bukan sekadar reuni biasa.
Pimpinan Pondok Pesantren Modern Al-Mizan Banten, Dr. KH. Anang Azharie Alie, M.Pd., yang juga alumni Daar El-Qolam angkatan 1982, menegaskan bahwa pertemuan ini memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ia menyebut setiap kiai yang hadir hari ini adalah buah dari jasa besar seorang pendidik ulung.
Jasa Besar di Balik Tumbuhnya Puluhan Pesantren Baru
Menurut KH. Anang Azharie, tidak ada pohon yang tumbuh tanpa akar, dan tidak ada generasi yang lahir tanpa pendahulu yang menanamkan nilai. Ia secara khusus menyorot peran sentral Drs. KH. Ahmad Rifa’i Arief, pendiri sekaligus pengasuh Daar El-Qolam dan La Tansa.
"Beliau bukan hanya mendirikan lembaga pendidikan. Beliau telah membangun sebuah tradisi perjuangan, menanamkan cara berpikir, cara hidup, dan cara mengabdi," ujarnya dalam pesan yang dibacakan di hadapan para kiai alumni.
Dari tangan beliau, lanjut KH. Anang, lahirlah kader-kader yang kemudian berjalan ke berbagai penjuru. Sebagian menjadi ulama, pendidik, dan pemimpin masyarakat. Sebagian lainnya mendirikan serta mengembangkan pesantren-pesantren baru di daerahnya masing-masing.
Silaturahmi Harus Berkembang Menjadi Sinergi Nyata
KH. Anang Azharie mengingatkan bahwa status alumni tidak boleh berhenti pada ikatan masa lalu semata. Alumni adalah jaringan nilai dan persaudaraan sejarah yang seharusnya menjelma menjadi kekuatan kolektif untuk menjawab tantangan zaman.
"Kita datang bukan hanya untuk mengenang masa lalu, tetapi untuk menyambung kekuatan. Kita berkumpul bukan hanya untuk bernostalgia, tetapi untuk bertukar pengalaman dan mencari jalan keluar atas persoalan pendidikan umat," tegasnya.
Ia menyebut tantangan pesantren saat ini semakin kompleks. Perubahan karakter generasi muda berlangsung cepat, teknologi digital membawa peluang sekaligus ancaman, dan tuntutan profesionalisme pengelolaan lembaga pendidikan semakin besar. Dalam situasi ini, pertemuan para pimpinan pesantren menjadi ruang untuk saling menguatkan.
Boleh Berbeda Sistem, Jangan Kehilangan Akar Nilai
Meski setiap pesantren memiliki nama, tradisi, dan sistem yang berbeda—ada yang memiliki ribuan santri, ada pula yang masih merintis dengan puluhan santri—KH. Anang mengingatkan agar perbedaan tersebut tidak membuat para alumni kehilangan akar nilai perjuangan yang sama.
"Wujud kita hari ini bukan semata-mata hasil perjuangan kita sendiri. Di belakang perjalanan kita ada jasa para guru, dan di antara guru besar yang telah membentuk arah perjuangan kita adalah Drs. KH. Ahmad Rifa'i Arief," pungkasnya.
Silaturahmi ini diharapkan melahirkan kerja sama konkret antar pesantren alumni, terutama dalam hal kaderisasi kepemimpinan, penguatan ekonomi pesantren, dan menjaga karakter santri di tengah arus digitalisasi.