BANTEN — Pelemahan pasar modal Indonesia terjadi setelah MSCI Inc mengumumkan hasil rebalancing indeks saham. Saham yang masuk daftar pengeluaran dari Global Standard Index mencakup PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT). Selain itu, MSCI juga mengeluarkan 13 saham dari Small Cap Index.
Pada pembukaan Rabu pagi, volume transaksi mencapai 520 juta saham dengan nilai Rp 290,312 miliar. Saham dengan frekuensi perdagangan tertinggi termasuk CUAN, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Sementara itu, indeks LQ45 justru bergerak positif tipis naik 0,18% ke posisi 669,84, kontras dengan sentimen pasar secara keseluruhan.
Elandry Pratama, analis Panin Sekuritas, menilai pengumuman MSCI akan mendapat respons negatif dari pasar karena saham-saham yang dikeluarkan merupakan target utama dana asing pasif. "Apalagi yang dikeluarkan dari MSCI Global Standard merupakan saham-saham dengan kapitalisasi besar dan selama ini menjadi target utama dana asing pasif," ujar Elandry kepada Katadata, Rabu (13/5).
Tekanan jual diperkirakan akan berlanjut hingga menjelang tanggal efektif implementasi perubahan indeks pada 1 Juni 2026. Elandry memperkirakan potensi dana asing yang keluar dapat mencapai ratusan juta dolar AS secara bertahap, terutama dari passive funds dan exchange traded funds (ETF) yang wajib menyesuaikan portofolio sesuai komposisi MSCI terbaru.
Keputusan rebalancing MSCI juga memperkuat persepsi bahwa bobot Indonesia di MSCI Emerging Markets terus menyusut. Kondisi ini tidak hanya memicu arus keluar jangka pendek, tetapi juga dapat menurunkan visibilitas pasar modal Indonesia di mata investor global. Dalam beberapa tahun belakangan, investor asing semakin selektif terhadap pasar negara berkembang, terutama yang mengalami penurunan likuiditas dan dinilai memiliki persoalan tata kelola.
Namun Elandry melihat celah peluang. Setelah tekanan forced selling mereda, saham-saham yang fundamentalnya masih solid berpotensi mengalami rebound teknikal. "Setelah tekanan jual teknikal selesai, saham-saham yang fundamentalnya masih solid berpotensi mengalami rebound," kata dia. Investor disarankan lebih selektif memilih saham yang likuid, memiliki fundamental kuat, valuasi menarik, serta minim risiko outflow lanjutan.
Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG berpotensi menguji level 6.700 dalam waktu dekat. Kondisi ini sejalan dengan sentimen rebalancing MSCI yang terjadi menjelang libur panjang. "Pengumuman rebalancing indeks MSCI Mei 2026, ternyata lebih banyak saham yang dikeluarkan dari perkiraan pasar sebelumnya," tulis Phintraco dalam keterangan tertulis. Pasar diperkirakan akan bergerak defensif dan volatil dalam jangka pendek seiring dengan proses penyesuaian portofolio dana asing pasif.
Pemegang saham saham yang dikeluarkan dari indeks MSCI Global Standard kemungkinan akan melihat penurunan nilai saat ini, khususnya hingga tanggal efektif 1 Juni 2026, karena forced selling dari dana pasif. Namun, peluang rebound teknikal terbuka jika fundamentalnya masih solid setelah tekanan jual mereda.
Analis Panin Sekuritas memperkirakan potensi dana asing yang keluar dapat mencapai ratusan juta dolar AS, terutama dari passive funds dan ETF yang harus menyesuaikan portofolio mengikuti komposisi MSCI terbaru. Jumlah pasti bergantung pada alokasi masing-masing fund terhadap saham-saham yang dikeluarkan.
Tekanan jual diperkirakan akan berlanjut hingga menjelang 1 Juni 2026, saat perubahan indeks MSCI resmi efektif. Setelah tanggal tersebut, saham-saham fundamental solid berpotensi mengalami recovery seiring berkurangnya tekanan forced selling dari dana asing pasif.