SERANG — Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Serang Suhardjo menyatakan pihaknya masih menunggu realisasi bantuan untuk sisa lahan puso yang belum tertangani. Pengajuan ke Pemerintah Provinsi Banten sudah dilakukan, sementara penanganan darurat di lapangan berjalan lewat bantuan pompa dan optimalisasi lahan tadah hujan.
Wilayah terdampak tersebar di 18 kecamatan, dengan konsentrasi terbesar di area yang jauh dari sumber air permukaan. Kondisi itu membuat sawah tadah hujan paling cepat kering saat hujan belum merata.
DKPP Kabupaten Serang menyalurkan bantuan pompanisasi melalui program irigasi perpompaan. Bantuan menyasar kelompok tani yang lahannya masih memiliki akses ke sumber air, sehingga pengairan bisa dialirkan ke petak sawah yang lebih luas.
"Kita berikan bantuan pompanisasi melalui program irigasi perpompaan," ujar Suhardjo, Kamis, 22 Oktober 2026.
Untuk lahan yang sama sekali tidak punya sumber air memadai, Pemkab Serang mengandalkan program optimalisasi lahan (Oplah). Tahun ini bantuan Oplah turun dalam dua tahap: 1.599 hektare pada tahap pertama dan sekitar 1.000 hektare pada tahap kedua.
Total bantuan optimalisasi lahan mencapai sekitar 2.599 hektare. Dana disalurkan lewat kelompok tani dan bisa dipakai untuk membangun irigasi perpompaan, termasuk sumur bor, guna menaikkan indeks pertanaman sekaligus menekan risiko kekeringan berulang.
Di sejumlah wilayah yang sudah punya ketersediaan air, petani mulai masuk musim tanam. Namun realisasi masih jauh dari target. Dari target tanam Oktober sekitar 17.000 hektare, yang terealisasi baru sekitar 5.000 hektare.
Keterlambatan itu berdampak langsung ke kalender produksi. Hasil panen dari penanaman sekarang diperkirakan baru diperoleh pada Januari mendatang.
"Kalau tanam sekarang, panennya di Januari. Jadi kurang tahun, nanti tidak masuk target produksi tahun ini," kata Suhardjo.
Secara keseluruhan, DKPP Kabupaten Serang menargetkan luas tanam tahun ini sekitar 98.000 hektare. Realisasi saat ini sudah mencapai sekitar 95.000 hektare, menyisakan sekitar 3.000 hektare yang harus dikejar pada sisa waktu.
Target produksi padi Kabupaten Serang ditetapkan 544.000 ton. Realisasi produksi saat ini baru mencapai sekitar 84 persen dari angka tersebut.
Suhardjo berharap sisa waktu pada November dan Desember bisa dimanfaatkan untuk menambah capaian produksi. Menurutnya, dua bulan terakhir menjadi peluang terakhir agar target tahun ini terpenuhi, bahkan terlampaui.
Bagi petani yang lahannya sudah puso, kepastian bantuan menjadi kunci untuk kembali menanam. Tanpa tambahan pengairan, lahan tadah hujan di 18 kecamatan itu berisiko gagal tanam lagi pada musim berikutnya.