SERANG — Ribuan mahasiswa Unpam Kampus Serang memadati aula kampus bukan untuk menonton konser, melainkan mengikuti seminar yang menyasar kebocoran finansial di era digital. Program Studi Manajemen sengaja mengangkat isu ini karena melihat pola belanja dan utang mahasiswa kini hanya dalam satu genggaman jempol.
"Sekarang belanja cukup pakai jempol, berhutang tinggal klik lalu selesai. Kalau literasi keuangannya lemah, mahasiswa rawan terjebak utang konsumtif, bukan produktif," kata Ketua Panitia Septian Aris Munandar.
Inflasi Gaya Hidup Akibat Algoritma Digital
Septian menjelaskan bahwa standar gaya hidup mahasiswa bergeser drastis karena paparan media sosial. Penghasilan naik sedikit, gaya hidup langsung ikut naik demi gengsi. Fenomena ini disebut inflasi gaya hidup.
Praktisi pasar modal Rivan Kurniawan yang menjadi narasumber utama langsung membongkar mekanisme di balik layar industri digital. Menurutnya, algoritma media sosial dan e-commerce sengaja dirancang untuk membuat pengguna merasa butuh barang yang sebenarnya tidak penting.
"Iklan dipersonalisasi, diskon dibuat seolah terbatas. Ini jebakan konsumerisme digital dan sabotase psikologis," jelas Rivan di hadapan ribuan mahasiswa.
Tiga Jurus Praktis Lawan Godaan Belanja Impulsif
Rivan membagikan tiga resep jitu agar mahasiswa tidak mudah terjerat bujuk rayu dunia digital. Pertama, memahami anatomi bocor halus. Mahasiswa perlu sadar ke mana uang mereka bocor—misalnya langganan aplikasi yang tidak dipakai, kopi Rp30 ribu setiap hari, atau cicilan paylater di lima toko sekaligus.
Kedua, menerapkan jeda 24 jam. Sebelum klik "Bayar Sekarang", tahan diri sehari penuh. "80 persen keinginan membeli secara impulsif akan hilang setelah 24 jam. Kalau besok masih butuh banget, baru beli," ujar Rivan.
Ketiga, belajar investasi sejak awal untuk melawan inflasi. Rivan menyarankan mahasiswa memulai dari reksa dana atau saham perusahaan dengan fundamental kuat. Tujuannya bukan cepat kaya, melainkan agar uang tidak habis digerus kenaikan harga barang.
Mahasiswa Ngaku Kalah Sama Keranjang Kuning TikTok
Sesi tanya jawab menjadi yang paling ramai. Banyak mahasiswa mengakui kalah dengan keranjang kuning TikTok dan tekanan teman sebaya. Bahkan, ada yang gajinya habis untuk membayar cicilan paylater.
Rivan memberikan tips psikologis tambahan: unfollow akun yang bikin insecure, hapus aplikasi belanja dari halaman utama ponsel, dan alihkan uang jajan ke rekening terpisah khusus investasi.
Rektor Unpam Serang bersama jajaran direktorat dan dosen Prodi Manajemen yang hadir memberikan apresiasi atas antusiasme mahasiswa. Mereka berharap seminar ini menjadi titik balik agar mahasiswa tidak hanya pintar akademik, tetapi juga cerdas mengelola uang.
"Kalau sejak kuliah sudah tahan godaan paylater, lulus nanti insyaallah lebih mapan," tutup Septian.