SERANG — Ancaman krisis pangan membayangi Banten. Sebab, hampir seluruh petani di provinsi ini sudah berusia senja. Pemerintah setempat pun bergerak cepat dengan mengubah wajah pertanian dari tradisional menjadi modern, sekaligus membentuk wadah khusus bagi anak muda untuk mengelola lahan.
Plt Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten, Nasir, mengungkapkan data yang memprihatinkan. "Usia rata-rata petani di Banten sekarang mungkin 90 persen itu di atas lima puluh tahun. Kami khawatir siapa yang akan melanjutkan lahan produksi untuk menghasilkan pangan kita ke depan," kata Nasir di Serang, Sabtu.
Stigma Petani Kotor vs Potensi Ekonomi Ratusan Juta
Nasir menjelaskan, generasi muda enggan bertani karena pekerjaan ini identik dengan kotor, berat, dan masa depan yang suram. Padahal, di balik stigma itu, sektor pertanian menyimpan potensi ekonomi besar. Lahan sempit pun bisa menghasilkan pendapatan di atas upah minimum jika dikelola dengan komoditas bernilai tinggi dan teknologi tepat guna.
Untuk membuktikan hal tersebut, Pemprov Banten meluncurkan sejumlah inisiatif. Tiga program utama yang digencarkan adalah pembentukan Petani Muda Milenial, penunjukan duta pertanian (agriculture ambassador), dan pembentukan kelembagaan baru bernama Brigade Pangan.
Brigade Pangan: Sarjana Muda Kuasai Lahan 150 Hektare
Melalui program Brigade Pangan, pengelolaan kawasan pertanian diserahkan sepenuhnya kepada kalangan muda, termasuk para sarjana pertanian. Pemerintah menyediakan dukungan penuh dari hulu ke hilir.
"Kita buat kelembagaan baru berupa Brigade Pangan dengan manajemen pengelolaannya oleh sarjana anak muda. Mereka mengelola hamparan lahan 150 hektare dan disokong penuh dari hulu ke hilir, termasuk sarana dan alat mesin pertaniannya," ujar Nasir.
Smart Farming dan Magang ke Jepang
Pemerintah juga mulai menggalakkan smart farming atau pertanian modern terintegrasi. Salah satu contohnya adalah fasilitas smart screenhouse yang memungkinkan budidaya tanaman bernilai ekonomi tinggi di lahan terbatas secara presisi. Sistem ini memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT) untuk mengendalikan kebutuhan tanaman, mulai dari pemupukan digital hingga pengaturan suhu lingkungan.
Selain infrastruktur di dalam negeri, Pemprov Banten telah memberangkatkan 21 pemuda untuk mengikuti program magang pertanian di Jepang pada April lalu. Tujuannya, memperkenalkan sistem pertanian modern terkini sekaligus memutus rantai pola bertani tradisional yang dianggap kurang menarik.
"Begitu pulang ke sini, tentu tidak sekadar mencangkul lagi. Makanya harus difasilitasi dengan alat-alat berbasis modern agar anak-anak muda tidak kembali ke pola pertanian tradisional yang dianggap kurang menarik," kata Nasir.
Nasir berharap, para peserta magang dapat mereplikasi ilmu yang dipelajari setibanya di Tanah Air. Keberhasilan regenerasi ini, menurutnya, harus diikuti dengan penyediaan fasilitas yang memadai dari pemerintah.