Pencarian

Pabrikan Mobil Mulai Tinggalkan Android Auto Demi Langganan dan AI Sendiri

Sabtu, 20 Juni 2026 • 23:18:31 WIB
Pabrikan Mobil Mulai Tinggalkan Android Auto Demi Langganan dan AI Sendiri
Pabrikan mobil mulai beralih dari Android Auto ke sistem berlangganan dan AI milik sendiri.

BANTEN — Selama satu dekade terakhir, konsumen dan pabrikan mobil hidup dalam kesepakatan tak tertulis: konsumen membeli mobil, pabrikan menyediakan Android Auto atau Apple CarPlay. Sistem proyeksi ponsel ini memungkinkan akses mulus ke musik, peta, dan komunikasi tanpa biaya tambahan. Namun, keseimbangan itu mulai bergeser.

Mengapa Pabrikan Ogah Pakai Android Auto Lagi?

Masalah utamanya ada pada data dan uang. Selama ini, Google mengambil data navigasi dan GPS dari pengemudi untuk kepentingan iklan, sementara pabrikan mobil tidak mendapatkan apa-apa. Manajer infotainment GM menyatakan kepada GM Authority pada 2023 bahwa data dari sistem navigasi sangat penting untuk meningkatkan pengalaman pengisian daya mobil listrik. “Dengan Android Auto, data penggunaan energi dan segmen jalan dikirim ke ponsel dan sulit untuk diambil kembali,” jelasnya.

Padahal, pabrikan seperti GM justru dilarang menjual data pengemudi setelah melanggar undang-undang privasi California dan membayar denda 12,75 juta dolar AS (sekitar Rp 210 miliar). Alih-alih menjual data, mereka ingin menggunakannya untuk memperbaiki kendaraan dan mempertahankan pelanggan.

GM Ganti dengan Sistem Berlangganan dan AI Gemini

GM akan mengganti Android Auto dengan sistem percakapan berbasis kecerdasan buatan Gemini dari Google. Sistem ini tetap berjalan di atas Android Automotive OS (AAOS), platform yang sama dengan Polestar 2 sejak 2020. Perusahaan mengklaim sistem barunya memungkinkan fitur yang tidak bisa dilakukan proyeksi ponsel biasa, seperti Dolby Atmos di Amazon Music. “Itu tidak mungkin dilakukan dengan proyeksi ponsel sederhana,” kata GM kepada MotorTrend.

Selain itu, GM mengakui ada “peluang pendapatan berlangganan” dari sistem miliknya sendiri. Pengemudi masih bisa menggunakan asisten Siri atau Google Assistant melalui sambungan Bluetooth, serta mengakses panggilan dan streaming dari kontak dan aplikasi.

Tesla dan Rivian Sudah Lebih Dulu Menolak

Tesla dan Rivian tidak pernah mengadopsi Android Auto sejak awal. Keduanya ingin kendali penuh atas pengalaman berkendara. Rivian, yang sistem operasinya dibangun di atas AAOS, menilai sistem proyeksi ponsel sudah usang. “Kemungkinan integrasi AI yang dalam di mobil membuat perdebatan CarPlay menjadi tidak relevan,” kata perwakilan Rivian kepada The Verge bulan lalu.

Apa Dampaknya ke Konsumen?

Bagi pengguna yang sudah terbiasa dengan Android Auto, kabar ini kurang mengenakkan. Sejak diperkenalkan pada 2015, Android Auto berkembang dari sekadar sistem proyeksi USB menjadi solusi yang diadopsi hampir semua pabrikan besar. Toyota dan Ford sempat membuat sistem sendiri, BMW bahkan pernah mematok biaya 80 dolar AS per tahun untuk CarPlay. Namun, konsumen tetap memilih kemudahan colok-dan-pakai tanpa biaya.

Kini, dengan makin banyak pabrikan yang mengembangkan sistem sendiri, pengguna mungkin harus memilih: tetap setia pada ekosistem ponsel atau beralih ke sistem bawaan mobil yang menawarkan fitur lebih dalam namun dengan model berlangganan. Keputusan ini, bagi sebagian besar pembeli mobil, bisa menjadi faktor penentu saat memilih merek di tahun-tahun mendatang.

Bagikan
Sumber: engadget.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks