Peristiwa flash crash ini terjadi antara pukul 23:00 dan 23:01 UTC, saat likuiditas pasar kripto sedang tipis di jam-jam sepi. Kontrak perpetual berbasis USDC yang melacak harga saham SK Hynix di Seoul langsung jatuh ke level US$900. Menit berikutnya harga melesat naik lagi ke US$1.092, menunjukkan betapa volatilnya pasar derivatif terdesentralisasi di luar jam perdagangan reguler.
Dari Kripto ke Bursa Saham Seoul: Efek Domino yang Cepat
Hanya satu jam setelah kehancuran di Hyperliquid, pasar saham Korea Selatan dibuka dengan tekanan jual yang masif. SK Hynix, pemasok utama memori HBM untuk prosesor AI Nvidia, ditutup di level 1.550.000 won (sekitar US$1.762) — turun 15% dalam sehari. Samsung Electronics dan Hyundai Motor ikut terseret, mengirim indeks Kospi jatuh 11%.
American depositary receipts (ADR) SK Hynix yang baru debut di Nasdaq awal bulan ini juga terpukul, turun 4,5% di perdagangan pramarket ke US$136,51.
Mengapa Likuiditas Tipis Menjadi Biang Kerok
Flash crash di bursa kripto sebenarnya bukan hal baru. Fenomena ini kerap terjadi pada jeda antara tutup pasar AS dan buka pasar Asia, termasuk Indonesia, China, dan Korea Selatan. Pada rentang waktu itu, likuiditas — kemampuan bursa menyerap order jual dan beli besar tanpa gejolak harga — menipis drastis.
Hyperliquid, bursa derivatif terdesentralisasi yang tengah naik daun sejak konflik Iran akhir Februari, belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan konfirmasi hingga berita ini ditulis. Platform ini menjadi favorit trader yang ingin berspekulasi pada aset tradisional lewat kontrak kripto.
SK Hynix Terperosok 48% dari Puncak, AI Stocks Ikut Loyo
Tekanan pada SK Hynix sebenarnya sudah terasa sepanjang bulan ini. Sahamnya sudah ambrol 48% dari puncak 1.947 won yang dicapai pada 26 Juni. Kekhawatiran meluas ke seluruh sektor AI di Wall Street. Saham Nvidia tergelincir 5% pada Senin setelah laporan Wall Street Journal menyebut perusahaan chip AI itu bisa menyediakan jaminan pendanaan senilai US$250 miliar untuk proyek data center yang terafiliasi dengan OpenAI.
Kondisi ini membuat investor global kembali waspada. Kombinasi likuiditas tipis di pasar kripto dan sentimen negatif terhadap saham AI menciptakan lingkungan yang rapuh — terutama bagi instrumen derivatif yang memungkinkan leverage tinggi seperti perpetual futures.