TANGERANG — Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Banten Tinawati Andra Soni menilai pekarangan rumah bisa jadi titik awal pengelolaan sampah rumah tangga, termasuk di wilayah kota yang lahannya sempit. Program Aku Hatinya PKK di Gedung Nyimas Melati, Kota Tangerang, menjadi forum untuk mendorong kebiasaan itu ke tingkat kader.
Tinawati menyebut pemanfaatan pekarangan sebagai langkah sederhana yang membawa manfaat langsung. Di kawasan seperti Tangerang Raya, lahan pekarangan umumnya terbatas karena sudah masuk area pemukiman padat.
Tiga Jenis Sampah yang Jadi Perhatian
Dalam kegiatan itu, Tinawati menekankan pentingnya pemilahan sampah organik, nonorganik, dan bahan berbahaya dan beracun (B3). Ketiga kategori itu disebut sebagai fokus pengelolaan di tingkat rumah tangga.
"Budaya mengelola sampah dari rumah perlu terus ditingkatkan dan dipraktikkan bersama agar menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari," kata Tinawati.
Ia menambahkan bahwa pengelolaan sampah organik, nonorganik, dan B3 menjadi perhatian utama dalam program ini. Pemilahan sejak dari sumber dinilai lebih efektif dibanding menumpuk sampah lalu memilahnya di tempat pembuangan akhir.
Dasawisma Didorong Urus Bank Sampah
CEO Bank Sampah Digital Desty Eka Putri Sari menilai program di PKK dapat mendorong pemberdayaan kelompok Dasawisma. Selama ini kelompok itu lebih banyak bergerak di pemanfaatan pekarangan untuk tanaman.
Desty mengajak kader PKK memperluas peran Dasawisma ke pengelolaan sampah rumah tangga, salah satunya lewat bank sampah. Para ibu rumah tangga didorong mengelola sampah sejak dari sumbernya.
"Persoalan sampah merupakan persoalan yang perlu dicermati bersama," katanya.
Menurut Desty, persoalan sampah di Provinsi Banten belum bisa diselesaikan satu pihak saja. Keterlibatan kader PKK di tingkat kelurahan dan RT/RW dinilai jadi kunci agar kebiasaan memilah sampah menyebar sampai ke rumah tangga.
Pekarangan Sempit Bukan Halangan
Di pemukiman padat Tangerang Raya, pekarangan sering hanya tersisa beberapa meter persegi. Kondisi itu membuat warga kerap menganggap pengelolaan sampah mandiri tidak praktis.
Program Aku Hatinya PKK menawarkan pendekatan berbeda: pekarangan sempit tetap bisa dipakai untuk menanam sekaligus menampung wadah pemilahan sampah organik. Kader PKK diminta menerapkan pola itu di lingkungan masing-masing sebelum mengajarkannya ke warga.
Langkah berikutnya ada di tingkat kader. TP PKK Provinsi Banten berharap kebiasaan memilah sampah organik, nonorganik, dan B3 masuk ke rutinitas Dasawisma, sehingga pengelolaan sampah tidak berhenti di forum pertemuan.