BANTEN — Kepala Dinas Pendidikan Kotim, Yolanda Lonita Fenisia, bersama Ketua PGRI Kotim, Mahbub, menyerahkan langsung bantuan kepada para korban di Sampit, Sabtu (6/6). Bantuan yang disalurkan merupakan hasil donasi sukarela dari pegawai Disdik dan anggota PGRI yang tersebar di 17 cabang kecamatan.
Korban Kehilangan Tempat Tinggal dan Perlengkapan Rumah Tangga
Kebakaran yang terjadi pada Sabtu, 23 Mei 2026, menghanguskan dua unit rumah dinas di kompleks SDN 1 Ketapang dan SDN 3 Ketapang. Tiga guru yang menjadi korban adalah Heni Triani (SDN 3 Ketapang), Rahmiyati (SDN 1 Ketapang), serta satu guru dari SDIT Zainul Amin.
Seluruh penghuni rumah selamat, namun mereka kehilangan hampir seluruh harta benda, termasuk dokumen pribadi, pakaian, dan perabotan rumah tangga. Hingga pekan lalu, para korban masih menumpang di rumah keluarga atau menempati fasilitas dinas sementara.
Solidaritas Guru dari 17 Kecamatan Terkumpul dalam Donasi
Mahbub menyebutkan, penggalangan donasi melibatkan anggota PGRI dari jenjang TK, SD, SMP, hingga SMA se-Kotim. “Saya mengucapkan terima kasih kepada Bu Kadisdik yang bersedia bekerja sama dengan kami dalam menyampaikan bantuan dari seluruh guru anggota PGRI. Ini adalah bentuk solidaritas organisasi PGRI kepada rekan-rekan yang sedang mengalami musibah,” ujarnya dalam sambutan penyerahan bantuan.
Ia menambahkan, pengumpulan donasi masih terus berlangsung di masing-masing pengurus cabang. Bantuan tambahan akan kembali disalurkan jika dana yang terkumpul sudah mencukupi kebutuhan para korban.
Harapan agar Korban Tak Merasa Sendiri
Yolanda berharap bantuan yang disalurkan dapat meringankan beban para guru yang tengah berupaya bangkit pascakebakaran. “Semoga bantuan ini dapat dimanfaatkan untuk kehidupan sehari-hari dengan sebaik-baiknya dan harapan kami bisa meringankan beban yang sedang dihadapi rekan-rekan kami,” kata Yolanda.
Sementara itu, Heni Triani dan Rahmiyati, mewakili para korban, menyampaikan rasa haru atas perhatian yang diberikan. “Kami hanya bisa mendoakan semoga segala kebaikan Bapak dan Ibu Guru dibalas oleh Allah SWT,” ucap mereka.
Mahbub menegaskan, solidaritas ini adalah bukti bahwa para guru tidak berjalan sendiri. “Dengan adanya bantuan ini, mereka bisa merasakan bahwa mereka tidak sendiri. Kita berada dalam keluarga besar yang memiliki rasa solidaritas yang sama,” tambahnya.