BANTEN — Perjalanan pulang dari Bandung ke Cawang jadi pembuktian lain. Saat saya mencoba berkendara irit, konsumsi listrik rata-rata turun ke angka 7,6 kWh. Angka itu cukup impresif untuk bobot dan dimensi B10. Tapi catatan besarnya tetap ada: efisiensi ini hanya didapat kalau kaki kanan benar-benar terkendali.
Konsumsi Listrik Melonjak Drastis Saat Agresif
Berangkat dari Jakarta dengan baterai 97 persen, sesampainya di Bandung sisa 37 persen. Artinya 60 persen daya habis terpakai. Saya akui, gaya mengemudi lumayan agresif. Rutenya sengaja dicampur: perkotaan, tol kecepatan stabil, hingga jalur menanjak dan berkelok arah Ciwidey.
“Rute ini merepresentasikan pola berkendara yang umum dihadapi konsumen Indonesia,” kata Tan Kim Piauw, CEO PT Indomobil National Distributor. Pola campuran itu memang pas untuk menguji watak asli mobil listrik di kondisi nyata.
Sasis Kaku, Tapi Suspensi Terlalu Empuk untuk SUV
Leapmotor B10 menggunakan struktur Cell-to-Chassis 2.0 yang diklaim memiliki kekakuan torsional 36.300 Nm/degree. Hasilnya terasa: bodi solid dan kabin senyap. Distribusi bobot 50:50 plus ban staggered—belakang lebih lebar—membuat setir akurat di tikungan tajam.
Tapi suspensi multilink belakangnya jadi kelemahan. Di dalam kota, empuk memang nyaman. Namun di Tol MBZ, mobil terasa bergoyang dan sedikit limbung. Untuk sebuah SUV, setelan ini terlalu lunak. Sasisnya digarap tim Stellantis lewat pengujian di Balocco, Italia, serta Catarc Yancheng, China, dan suspensi disetel Continental. Sayangnya, karakter empuk itu kurang cocok untuk pemakaian luar kota.
Penggerak Roda Belakang dengan Karakter Familiar
Buat pengguna yang baru pertama kali beralih ke mobil listrik, B10 terasa familiar seperti mobil konvensional—hanya lebih senyap. Efisiensi ruang kabin naik 17,5 persen berkat struktur Cell-to-Chassis. Sayangnya, kenyamanan suspensi yang jadi nilai jual di perkotaan justru mengurangi rasa percaya diri saat melibas tikungan cepat di jalan tol.