BANTEN — Lonjakan ini membawa harga emas Antam ke level Rp 2.725.000 per gram dari posisi sebelumnya Rp 2.645.000 per gram. Adapun harga buyback ikut naik menjadi Rp 2.585.000 per gram. Selisih antara harga jual dan harga beli kembali tersebut merupakan margin yang berlaku di gerai Logam Mulia.
Kenaikan ini terjadi setelah Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) mengumumkan langkah mengejutkan berupa penggandaan nilai operasi pembelian kembali obligasi untuk mendukung likuiditas surat utang bertenor panjang. Kebijakan tersebut langsung menekan imbal hasil obligasi dan indeks dolar AS, dua faktor yang biasanya bergerak berlawanan dengan harga emas.
Sentimen Global Dorong Harga ke Level Tertinggi
Di pasar spot, harga emas dunia meroket 3,4 persen ke US$ 4.479,84 per ounce. Bahkan sempat menyentuh US$ 4.491,16 per ounce pada awal perdagangan, level tertinggi sejak 4 Juni. Sementara itu, harga emas berjangka AS ditutup menguat 2,8 persen di level US$ 4.545,30 per ounce.
Pelemahan indeks dolar AS sebesar 0,8 persen menjadi katalis utama. Emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain, sehingga mendorong permintaan. Imbal hasil Treasury AS bertenor 30 tahun juga turun tajam setelah sebelumnya berada di sekitar level tertinggi dalam 19 tahun.
"Ini benar-benar tidak terduga. Sangat bullish untuk emas karena imbal hasil Treasury jangka panjang yang lebih rendah dan karena hal ini dapat membantu menekan dolar lebih rendah," ujar Robert Gottlieb, pakar industri sekaligus mantan kepala divisi logam mulia di Koch Supply and Trading.
Arus Investasi Emas Berpotensi Kembali Mengalir
TD Securities dalam catatannya menyebut pengumuman Departemen Keuangan AS memberikan "jolt of life" atau dorongan baru bagi pasar logam mulia. Meski tekanan beli sempat mereda dalam beberapa hari terakhir, arus investasi emas dinilai dapat kembali dengan cepat.
Faktor pendukungnya antara lain sikap The Fed yang bersedia mengabaikan dampak guncangan energi, serta narasi stagflasi yang semakin berkembang. Kondisi ini pada akhirnya diperkirakan mendorong penurunan suku bunga riil dan menjadi katalis positif bagi emas.
Secara teknikal, harga emas spot berhasil menembus rata-rata pergerakan 100 hari di kisaran US$ 4.381 per ounce. Ini menjadi sinyal penguatan lebih lanjut dalam jangka pendek.
Ekspektasi Suku Bunga The Fed Jadi Penopang
Berdasarkan CME Group FedWatch Tool, probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan 15-16 September berada di level 65 persen. Ekspektasi ini menguat setelah sejumlah data ekonomi AS terbaru menunjukkan pelemahan, mengurangi spekulasi kenaikan suku bunga.
Sebagai catatan, harga emas Antam pernah mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada Kamis (29/1/2026) di level Rp 3.168.000 per gram dengan harga buyback Rp 2.989.000 per gram. Harga emas Antam bersifat fluktuatif dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti dinamika pasar.
Seluruh informasi harga mengacu pada situs resmi Logam Mulia, unit bisnis PT Aneka Tambang Tbk.