Badan Karantina Indonesia (Barantin) bersama Pemerintah Provinsi Banten melepas ekspor tiga komoditas tropis unggulan senilai Rp40,8 miliar lebih ke pasar China melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Jumat. Pelepasan ekspor ini merupakan bagian dari program "Merdeka Ekspor" untuk mendorong daya saing produk lokal menembus pasar global.
TANGERANG — Tiga komoditas tropis unggulan asal Indonesia, yakni manggis, kepiting, dan walet, resmi dilepas untuk diekspor ke China dengan total nilai mencapai Rp40,8 miliar. Pelepasan ekspor dilakukan langsung oleh Kepala Barantin Abdul Kadir Karding bersama Gubernur Banten Andra Soni di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Jumat.
Kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Barantin menilai ketiga komoditas tersebut memiliki permintaan yang sangat tinggi di pasar internasional.
Hilirisasi Jadi Kunci Nilai Tambah
Karding menegaskan bahwa ekspor tidak boleh berhenti pada produk barang mentah. Menurutnya, proses hilirisasi harus terus berjalan agar nilai tambah yang diperoleh semakin besar dan mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja.
"Hilirisasi nanti harus berjalan. Seperti tadi ada sup walet yang instan itu, kemudian ada mineral walet nanti bisa diekspor, pastinya nilai tambah tenaga kerja jadi banyak," jelasnya.
Klinik Ekspor untuk Dongkrak Kapasitas UMKM
Untuk mendukung peningkatan ekspor, Barantin menghadirkan model layanan bernama Klinik Ekspor. Layanan ini dirancang untuk membantu pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta petani yang kerap mengalami kendala dalam memenuhi standar internasional.
"Layanan ini berfungsi sebagai sarana pendampingan bagi para pelaku usaha untuk mempersiapkan diri memenuhi standar mutu dan protokol ekspor yang disepakati negara tujuan," papar Karding.
Karding mengakui, tantangan utama yang dihadapi UMKM saat ini berkaitan dengan keterbatasan manajemen standar kualitas, akses permodalan, serta upaya menjaga konsistensi dan persistensi mutu produk di lapangan.
Banten Tetap Kokoh sebagai Sentra Ekspor Nasional
Gubernur Banten Andra Soni mengakui bahwa pertumbuhan ekspor di wilayahnya sempat mengalami penurunan akibat tekanan kondisi global. Kendati demikian, Banten tetap kokoh diposisikan sebagai salah satu sentra produksi produk-produk ekspor utama serta pusat hilirisasi nasional.
"Banten masih menjadi salah satu sentra produksi produk-produk ekspor yang ada di Indonesia. Kemudian kebijakan pemerintah, Provinsi Banten merupakan salah satu pusat hilirisasi," ungkapnya.
Menurut Andra, letak geografis Banten yang strategis didukung akses dekat ke bandara, wilayah laut yang luas, serta sektor pertanian yang produktif memberikan potensi besar untuk memasarkan produk lokal ke luar negeri.
Pemprov Banten Kerahkan Seluruh Kepala Dinas
Guna mengatasi hambatan pengetahuan di kalangan UMKM, Pemprov Banten mengerahkan seluruh jajaran kepala dinas untuk menindaklanjuti program pembinaan. Salah satunya dengan mengintegrasikan layanan Klinik Ekspor bersama Balai Karantina Provinsi Banten di area bandara.
"Maka hari ini saya didampingi oleh seluruh kepala dinas saya untuk berikutnya menindaklanjuti, salah satunya adalah klinik karantina yang akan dilakukan oleh teman-teman dari Balai Karantina Provinsi Banten yang ada di bandara," kata dia.
Melalui kolaborasi lintas sektoral ini, Barantin bersama Pemprov Banten berkomitmen memastikan tugas pengawasan karantina tidak hanya berfokus di border sebagai pengamanan hayati (biosecurity), tetapi juga mampu mendampingi pelaku usaha lokal untuk memenuhi standar mutu, ketelusuran (traceability), serta protokol perdagangan global yang berlaku.